Jumat, 10 Januari 2014

GADIS TOMBOI BAIK HATI


Hembusan angin pagi yang sepoi-sepoi sangatlah pantas digunakan untuk bersantai, tetapi tidak untuk perempuan ini. Perempuan dengan gaya tomboi bernama Nency ini sedang berdiri di dekat kolam renangnya, sepertinya ingin berenang tetapi ia sama sekali tidak menggunakan baju renang, kira-kira apa yang akan ia lakukan??
Tiba-tiba saja, sebuah tendangan terayunkan dari kaki mungil perempuan itu. Tepat mengenai sebuah bantalan yang menggantung di pohon. Ia sedang mengeluarkan jurus karatenya. Tak berapa lama, seorang wanita datang membawakan minuman.
“Nak, udah dong latihannya ! Ini bunda bawakan minuman buat kamu, pasti kamu haus banget, kan??” rupanya beliau Ibu dari perempuan itu. Ibu itu menghampiri anaknya, anaknya tampak sedang kecapekan dengan bukti keringat yang ada di dahinya.
“Tunggu, Bun ! Sebentar lagi selesai kok,” Jawabnya masih tetap menendang bantalan itu.
“Baiklah, tapi setelah itu kamu ke kamar Bunda ya, ada yang mau Bunda katakan padamu! Ini minumnya diminum, jangan ditinggal begitu aja seperti hari lalu !” Kata Ibu tersebut sambil meletakkan gelas minuman tersebut.
“Oke, Bundaaaaa !!!” Jawab gadis itu gembira. Ibunya pergi meninggalkannya sambil mengacungkan jempolnya.
                Beberapa menit kemudian, ia telah menyelesaikan latihan karatenya. Ia segera meminum minuman buatan Ibunya itu, dan segera pergi menuju kamar Ibunya.
“Bunda,,!!” Sapa gadis itu sambil mengetuk pintu kamar.
“Masuk aja, sayang !” jawab sesorang dalam kamar.
“Kreeeeekkk” Bunyi pintu terbuka.
“Ada apa, Bun?” Tanyanya sambil duduk di sebelah Bundanya di kasur.
“Bunda capek, deh lihat kamu seperti ini.” Keluh beliau.
“Apa maksud Bunda?” Alisnya berkerut, tanda kebingungan.
“Sekali-kali pergilah ke mall, lalu carilah salon langganan Bunda!”
“Untuk apa, Bun?” Alisnya tambah berkerut, rasa bingungnya sudah semakin parah.
“Bunda cuma mau, anak bunda ini jadi perempuan seperti umumnya, yang biasanya pergi ke salon untuk memanjakan rambut dan tubuh. Kamu mau kan, nak?” Jelas wanita itu.
“Tapi, Bun aku nggak suka dengan hal-hal seperti itu.” Jawabnya membantah.
“Ingat, Bunda nggak pernah minta apa-apa sama kamu. Tolong, untuk kali ini saja! Ingat juga, kamu sudah menginjak usia remaja, usia mu sudah 15 tahun !! Tidak bagus, terlalu lama berolahraga terus-menerus. Lihat saja, rambutmu mulai kering. Kamu ingat, terakhir kali kamu pergi ke salon? Itu saat kamu belum kenal karate, taekwondo, silat. Apa Bunda harus ngelarang kamu aja untuk kegiatan itu??” Jelas wanita itu semakin panjang, rupanya gadis itu mulai kesal dengan sikap Ibunya yang ingin melarangnya.
“Ya sudah, deh aku menuruti perintah Bunda. Asal, Bunda tetap mengijinkan ku mengikuti kegiatan tersebut!” Jawabnya dengan nada sedikit membentak tetapi dengan kehalusan bahasa.
“Nanti sore akan Bunda ajak antar kamu ke mall, setelah itu kamu bisa leluasa ingin menjelajah ke area mall itu. Bunda juga sudah meminta langganan Bunda untuk menunggu kedatangan kamu. Jadi, kamu nggak bisa bohong sama Bunda!”
“Hm, baiklah Bunda. Akan aku lakukan..” Rupanya Ia telah kehilangan akal agar ia bisa kabur dari mall.
                Sore harinya, ia telah berada di Mall Karawaci, jaraknya sekitar tiga kilometer dari rumahnya. Mall itu termasuk langganan Bundanya.
Ia mulai berjalan melewati kerumunan orang, banyak dari mereka yang tampak memandang aneh gadis itu. Gadis itu berpakaian normal, dengan celana jeans dan t-shirt berwarna biru yang dikenakannya.
Setibanya di salon, ia dihampiri oleh seorang wanita yang lebih tua darinya,
“Adik ini anaknya Ibu Mona ya?” Tanya wanita itu dengan memperhatikan dari ujung rambut sampai kaki gadis itu, terkesan tidak sopan.
“Iya, memangnya ada apa?”
“Mari, sudah saya siapkan tempat langganan Ibu kamu!” Sambil mengantar ke dalam ruangan dari salon itu.
“Tempatnya keren jugaa, hmm pantas saja Bunda kalau pergi ke salon selalu lama. Ternyata dekorasi ruangannya bikin nyaman” Batin gadis tersebut sambil berjalan mengikuti wanita itu yang ternyata adalah asisten dari salon tersebut.
“Nah, ini tempatnya. Maaf sebelumnya, bukannya anak Ibu Mona itu perempuan ya, tapi ini kok laki-laki?” Tanya asisten itu penuh curiga.
“Laki-laki mbak?” Tanyaku tak percaya
“Iya, cara berjalanmu dan potongan rambutmu itu menandakan seorang lelaki ..”
Gadis tersebut terdiam, rupanya sedang memikirkan sesuatu,,
“Mbak, bisa mulai sekarang? Sebelumnya, saya ini anak Ibu Mona, memang penampilan saya saja yang seperti lelaki.” Terang gadis tersebut.
“Maaf dik, saya tidak tahu. Maaf kan saya, baiklah saya akan memulainya sekarang.”
                Waktu telah berjalan begitu cepat, gadis tersebut pulang dari salon pukul 20.00 WIB.
“Hari pertamaku memasuki area salon ternyata tak terlalu buruk, hanya saja aku tersinggung oleh ucapan asisten itu. Memangnya penampilanku seburuk itu, hingga aku dikira laki-laki?” Gumamnya dalam hati, kali ini ia merasa sangat diremehkan.
“Dia pikir perempuan harus feminim, harus berambut panjang. Tapi, apa guna itu semua kalau dia tak bisa menjaga dirinya dari marabahaya?? Lebih baik kehilangan itu semua daripada harus kehilangan harga diri karena nggak bisa ngelindungin diri sendiri. Orang macam apa yang mau harga dirinya direndahin, coba??” Omelnya sambil menendang kaleng soda, tendangan itu melayang tepat di tong sampah yang kira-kira berjarak 1 meter darinya. Amazing !!!
Telah lama ia menunggu, rupanya tak ada jemputan yang menghampirinya. Ia terpaksa berjalan kaki, meski jarak jauh yang harus ia tempuh.
Sesampainya di tengah jalan, ia bertemu asisten itu lagi. Wajahnya tampak resah, seperti kehilangan sesuatu. Tapi, apakah itu??
Terlihat dari kejauhan orang berlari, lari sangat kencang, dengan beberapa barang yang ada di tangannya. Banyak orang yang mengejarnya, dan berkata “COPET !!!!!”
“Hmm, copet? Oh, copet. Ha, COPET??” Ucap gadis itu setengah tak sadar.
Gadis itu mulai mengejar pria pencopet itu. Ia berlari sekuat mungkin hingga jarak antara mereka tinggal beberapa langkah lagi. Dari yang awalnya sekitar 100 meter, sekarang mungkin hanya 5 meter.
“Woi, copet!! Balikin nggak tuh barang-barangnya!” Gadis itu berkata, tepat di saat ia menghadang copet itu.
Copet itu merasa dirinya masih bisa pergi dari gadis itu. Ia mulai melangkahkan kakinya, tapi kaki gadis itu lebih cepat menghentikan langkah copet tersebut, dengan cara menjegalnya. Tepat dugaan, copet tersebut terjatuh. Tangan gadis yang lincah itu segera (membungkam?) tangan copet itu hingga barang yang ia bawa berantakan.
Copet itu mulai tak kuat, dan akhirnya ia menyerah. Gadis itu, mempunyai hati yang baik maka ia memberikan izin agar copet bisa pergi dengan syarat copet tak akan mencopet lagi.
                Tak berapa lama, wanita asisten datang. Ia terlihat resah, dan akhirnya ia mendekati gadis itu.
“Adik yang tadi di salon ya?” Wanita itu memulai percakapan.
“Iya, mbak. Ini barang mbak?” Ia menyodorkan barang yang dibawa copet tadi.
“Iya, makasih adik. Maaf tadi saya sudah salah mengira adik. Saya kira adik adalah perempuan yang bergaya lelaki tapi tetap mementingkan pergi ke salon dan itu bukanlah sosok seorang yang tomboi, dan ternyata adik sangat luar biasa. Adik lebih mementingkan orang lain yang sedang membutuhkan, dan rela berkorban kotor-kotoran demi menyelamatkan barang-barang ini.” Asisten itu berterima kasih padanya, memang selama gadis itu mengejar copet, mereka melewati jalan yang kasar dan banyak genangan air di sekitarnya.
“Iya, mbak sama-sama. Tapi, saya memang sudah terbiasa dengan hal tersebut. Saya mengikuti beberapa club bela diri dan saya akan menjaga nama baik club tersebut dengan cara seperti tadi. Meskipun saya adalah seorang wanita, tapi tak ada salahnya jika saya berpenampilan seperti ini.”
“Sekali lagi saya berterima kasih pada adik.”
“Iya mbak, tak perlu diulangi. Saya permisi dulu, mau meneruskan perjalanan untuk pergi ke rumah.” Jawabnya berpamitan ke pada asisten.
“Apakah adik tak ada yang menjemput?” Kalimat perhatian itu terlontar dari mulut asisten itu.
“Sepertinya tidak.” Jawaban gadis itu simpel.
“Adik bisa saya antar sampai ke rumah sebagai ganti telah menolong saya. Bagaimana?” Tawaran asisten itu membuat hati gadis tersebut lega.
“Apakah tidak merepotimu?” Tanya gadis itu.
“Tak perlu khawatir ! Mari, naiklah !” Ia meminta gadis itu menaiki sepeda motornya yang berwarna silver. Tanpa pikir panjang, gadis itu menaikinya.
                Sesampainya di rumah . . .
Rumah tampak hening, tak ada suara yang menandakan adanya penghuni dalam rumah itu.
“Bunda. . .” Panggil gadis itu.
“Bunda . . .” Suara gadis itu semakin keras.
Ia melangkahkan langkahnya menuju kamar bundanya.
“Bun, aku sudah pulang, nih !” Tak ada jawaban sama sekali.
Tiba-tiba saja terdengar suara pintu terbuka.
“Kenapa sih, nak?” Sebuah tepukan mendarat di bahu gadis tersebut, itu membuat ia kaget.
“Bunda, jangan bikin kaget!”
“Iya, maaf yaa. Nak, kamu tak perlu ikuti club mu itu lagi!” Kata Ibu itu.
“Kenapa, Bun? Memangnya salah ya?” tanya gadis itu.
“Sedikit salah, sekarang kamu suka dibilang anak laki-laki. Banyak temen Bunda yang ngira kamu itu laki-laki. Bunda malu, “ jawab ibu itu sedikit ragu untuk mengatakannya.
“Tapi, Bun club itu juga bisa diandalkan. Buktinya sewaktu pulang nyalon, aku ketemu asisten salon langganan Bunda sedang dicopet. Aku bantu dia ngejar copetnya, dan si copet akhirnya mau ngembaliin barang copetannya.” Jelas gadis itu secara rinci.
“Jadi itu sebabnya penampilanmu sangatlah kotor?” tanya ibu itu, si gadis hanya mengangguk sebagai jawaban iya nya.
“Maafkan Bunda, Bunda kira kamu nggak mau turuti keinginan Bunda. Kamu bisa teruskan club yang kamu mau. Asal,,????” kata ibu itu, sambil memperlihatkan wajah berpikirnya.
“Asal apa, Bun?” tanya gadis 15 tahun itu penasaran.
“Asal kamu rubah tatanan rambut kamu, cara jalan dan busana kamu! Lainnya, sebulan harus pergi ke salon! Setidaknya untuk menata dirimu seperti wanita biasanya, walau memerlukan waktu yang lama.”
“Ganti tatanan rambut ya, Bun? Tapi, gaya rambut seperti enak, nggak perlu susah-susah untuk ngerawatnya.” Alasan gadis itu datang . . .
“Gitu ya? Kalau begitu, jangan ikut club bela diri !” Jawab ibunya menjengkelkan.
“Baiklah, Bun. Aku menurut saja, asal bela diri tetap nomor satu !!”

-THE END-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar